Minggu, 01 November 2015

SAFETY FIRST - Menyentuh Jalanan dengan Jinak - Eni NN

Ilustrasi Gambar by Eni NN


Eni NN

JALANAN itu ibarat anggota tubuh manusia. Dia pun ingin disentuh dengan jinak oleh pengendara terbaik yang melintasinya, bukan dengan aksi liar yang mampu membuatnya murka.
            Mengawali langkah dengan berdoa, pagi ini aku kembali menyusuri sebuah jalan untuk suatu tujuan. Berdagang kaki lima. Aku, seorang ayah muda, berpindah-pindah tempat dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Dari gang paling sempit, sampai ke luar jalur di perbatasan kota.
            Aku sangat bersemangat dengan pekerjaan rutinku ini. Mengumpulkan rupiah demi rupiah yang halal untuk menyanggupi kebutuhan hidup keluarga---ada istri dan dua anak tercintaku di rumah. Belum lagi, motor yang kutunggangi saat ini adalah motor cicilan yang belum lunas terbayar---satu tahun ke depan aku masih akan diapit sebuah utang cicilan. Aku harus bekerja ekstra, tidak boleh memelihara keluh dan kesah, meski pernah lidahku berucap pasrah, “Kenapa dulu aku tidak mati saja. Hidup di dunia hanya buatku lelah.” Aku menyesali kalimat tersebut, yang kerap terngiang di kepala.
            Sejak pagi buta hingga di ujung waktu sore, aku mengabdikan hidup di jalan. Udara sejuk dan polusi masam, berbaur berebut tempat tinggal di paru-paruku. Jalanan adalah lalu-lintasku. Jalanan adalah jejak tualangku. Aku seumpama tamu di ruang jalanan, yang mengizinkanku dengan ramah ketika masuk menitip jejak. Dan, motor Honda kesayanganku ini sudah laksana kekasih di sepanjang jalan. Ditambah lagi, sejak punya motor sendiri, helm bau cuka berwarna hitam pupus ini tak pernah kutanggalkan dari kepala, di mana pun tujuanku berada. Aku tak kalah dengan wanita berhijab yang istiqamah melindungi kepalanya. Aku juga tak mau kalah dengan handphone layar sentuh yang dilindungi antigores. Kepalaku juga berharga, dan butuh perlindungan.
            “Ikan bandeng... Ikan bandeng....” Aku berteriak gigih, guna promosikan ikan dagangan, dibantu dengan suara klakson yang beriringan kuperdengarkan.
            Sambil menghidupkan lampu sein ke kiri, aku lalu menepikan kendaraan roda duaku ini dengan baik, persis di depan rumah seorang pelanggan yang sesaat lebih dulu menjawab teriakanku.
            Aku paling suka menyambangi rumah-rumah ibu rumah tangga yang kukenal malas ke pasar. Mereka sudah biasa menanti kehadiranku; mengantarkan ikan-ikan nan segar. Yang bernama Khatimah, dia pelanggan terbaik, yang tak pernah mengutang ketika membeli ikan bandengku. Tidak seperti pelanggan yang lain, ada yang berminggu bahkan berbulan barulah dia membayar. Untunglah, mereka sangat aku percaya. Untung-rugi biasa terjadi. Namanya juga usaha.
            “Alan... Alan.... Kamu itu kalau bawa motor kayak bawa sepeda, ya! Lambat benarrr! Kalah jago sama anak SD jaman sekarang. Hahahaaa...” komentar Idon, pedagang sayur yang juga berdagang kecil-kecilan dengan motor bebeknya.
            “Don... Don.... Kamu orang kesekian yang ngomong gitu ke aku,” tegasku dengan balasan akrab, dibarengi mendesah sabar.
            Sudah banyak yang mengutarakan demikian. Tak sedikit ada pula yang memaklumiku. Namun, menurut batinku, biarlah mereka berkata apa, aku punya prinsip sendiri.
            Selain karena terbiasa mesti singgah di lokasi para pelanggan dengan tenggat jarak yang kisarannya maksimal lima meter, jua karena aku memang merasa nyaman mengendarai motor ini dengan kecepatan maksimal hanya 30 km/jam---bahkan tak genap 20 km/jam. Sering pula aku ditertawakan secara terang-terangan oleh Haykal, sahabat satu geng-ku dulu saat masa-masa SMA. Dia tak lain adalah seorang owner bengkel motor terbesar di kampung kami. Untuk urusan soal motor, dia memang jagonya. Sangat kuakui. Dia ahli di bidang itu. Tapi, membandingkanku dengannya, itu amat tidak wajar, kupikir. Sekalipun kelak aku kembali piawai meng-handle kendaraanku ini dengan kecepatan tinggi, tidak akan kulakukan aksi ugal-ugalan itu di jalan.
            “Ayah ingat pesan Bunda, kan?” sambut Iis, istriku, di depan pintu rumah sederhana kami.
            “Ayah selalu ingat itu, Sayang. Tenanglah...” ucapku dengan maksud menenangkannya, sambil mencium keningnya sekembaliku dari bertualang di jalan---tak lain untuk mencari nafkah.
            Tiap berangkat kerja, dia tak lupa mengingatkanku tentang itu, nasehat itu, tentang keselamatan diriku yang seutamanya mesti kujaga. “Biar lambat, asal selamat!” Begitu, kalimat yang sama kerap diulangnya. Ya, karena saking cintanya dia pada suaminya ini.
            “Besok, jam tiga Subuh, bangunkan Ayah, ya, Bund.... Ayah harus cepat-cepat ke pelabuhan,” pintaku.
            “Tumben!” tandasnya kemudian.
            “Iya, soalnya Ayah sudah buat janji mau ketemuan sama pemilik tambak bandeng di sana. Katanya kalau Ayah nggak cepat, ikannya keburu habis diborong pembeli dari luar kota. Ikannya segar-segar, dan Ayah akan dikasih diskon 50 persen dari total harga yang sering Ayah dapatkan biasanya. Lumayan, lah...! Ayah baru kenal juga, sih. Tapi, kata orang, dia pengusaha ikan hasil tambak yang baik, yang nggak terlalu mahal menaruh harga.”
            Istriku mengangguk, turut mengerti. Kami pun beranjak masuk, dan langsung ke meja makan.
            Anakku yang paling kecil, Syifa namanya, dan dia acap mengeluh. Sebabnya adalah, ikan bandeng daganganku itu, setia mengabdikan dirinya sebagai menu lauk andalan di keluarga kami. Dia sangat bosan. Meski sering sekali aku menasehati, agar dia lebih bersyukur, karena masih banyak orang yang kelaparan di luar sana. Dan kubilang, “Ini makanannya orang kaya, lho, Sayang....” Dia tetap tidak mau tahu. Hm, namanya juga anak-anak, dan dia sudah diambang rasa jenuh. Aku yakin sebenarnya istriku dan Tiara---kakaknya Syifa---juga sepemikiran dengan Syifa. Bahkan kuakui, lidahku pun mulai sepat, menyentuh daging ikan yang serupa tiap harinya. Menyantap lauk jenis lain, itu hanya sesekali. Semua mesti bersabar, sampai motor itu lunas. Ada sedikit uang, tapi itu tersimpan aman di kotak tabungan keluarga kami, sebab kebutuhan lain juga mengantri di belakang. Jika kami kekurangan rupiah, tidak kebayang jika aku bakal menunggak selama tiga bulan, lantas otomatis pula motorku akan ditarik oleh dealer motor kembali. Aku tidak mau itu sampai terjadi.
            “Sabar dulu, ya, Sayang. Kalau motor kita sudah lunas, Syifa bebas mau makan apa aja. Ayah bakal usahakan pokoknya,” kataku kepada Syifa. Dia diam tanpa komentar apa-apa. Untung saja Tiara dapat mengerti dengan keadaan dan kondisi genting orangtuanya ini, dia bisa jadi contoh buat Syifa.
***
            Keningku mengkerut. Lonceng jam klasik milik desa ini sempat mengagetkanku. Berbunyi tepat di pukul 3.00 jelang Subuh. Ini kali pertamanya aku menguber barang dagangan sepagi ini. Biasanya, aku menggapai pelabuhan pada pukul 6.00. Tidak sepagi buta ini.
            “Kenapa orang itu tidak datang juga, ya??? Aku sudah setengah jam di sini. Sepertinya...” batinku mulai resah.
            Duhai, perjanjian macam apa ini?! Bukankah kemarin dia sendiri yang bilang kalau aku mesti benar-benar datang di hari dan jam yang telah disepakati. Tapi, sudah setengah jam aku di sini, agen ikan itu tidak datang juga. Dalam keadaan gelap begini, angin yang dingin menyergap kulitku. Aku duduk seorang diri sembari tetap menanti dari atas motor. Gemericik air sungai sesekali menghidupkan suasana. Dan, untuk  mencegah serbuan angin bak es batu itu, aku merapatkan jaket kulit di badanku, juga memasang kembali helm yang sempat kulepas saat sampai di sini. Badanku mulai hangat. Ah, aku malah ngantuk jadinya. Atau aku pulang saja....
            PRAAAK!
            Tiba-tiba ada yang menimpuk punggungku dari belakang, dengan sebatang balok dari kayu ulin. Tubuhku terempas jatuh tak berdaya di aspal pelabuhan. Samar-samar aku tersadar, ada yang menghidupkan motorku dengan kunci yang masih menyangkut di leher motor.  Seorang bapak-bapak paruh baya melarikan motorku, dan berteriak, “Terima kasih sudah dataaanggg...!”
            “Maaaliiinggg!!! Maliiinggg...!!! Tolooong!!! Motorkuuu...!!!”
            Tak ada seorang pun yang bisa mendengarkanku di lokasi sepi ini. Spontan, air bening mengalir hangat di pipi tirusku. Aku sudah berlari mengejar maling itu sendiri, namun sia-sia. Bagai ditelan alam, jejaknya hilang seketika. Aku menyesal. Benar-benar menyesal! Andai saja.... Ah!!!
            “Motor belum lunas, malah hilang dari hadapan! Apa yang harus aku lakukan?! Apa yang harus kubilang pada istriku?! Bagaimana aku bisa berdagang nanti?!” rutukku membara, bersikeras menyalahkan diri.
            Aku memilih untuk tetap di sini. Di pelabuhan yang menjadi saksi luka hatiku. Hingga Subuh berlalu, dan langit mulai berwarna biru. Perahu mesin beriringan datang bersama kumpulan para nelayan yang membawa ikan laut tangkapan mereka; mereka bukan langgananku, tapi mereka sangat akrab denganku. Biasanya, Mas Edo dan Pak Yono yang membawakan ikan-ikan hasil tambak pesananku: ikan bandeng kecil dan sedang---maklumlah, uang modalku hanya mampu membeli ikan-ikan seukuran itu. Para pedagang ikan mulai berkumpulan. Terjadilah transaksi jual-beli di sini.
            “Ada apa, pagi-pagi malah melamun? Ini ikanmu sudah aku bawakan!” tegur Mas Edo padaku.
            Aku lalu mengadukan kejadian pahit yang aku alami pada Mas Edo, sedetil-detilnya. Sesaat semua heboh mendekatiku. Ada yang penasaran. Ada yang turut prihatin padaku. Mas Edo lantas berbaik hati mengantarku ke kantor polisi, guna melaporkan kejadian pencurian motor ini.
            Sesampainya aku dan Mas Edo di kantor pihak yang berwajib, tiba-tiba ada pemandangan yang tak asing di mataku. Ya. Aku melihat ada sebuah motor persis motorku, yang diberi  segel police line berwarna hitam dan kuning.
            “Mas Edo! Mas Edo! Itu, kan, motorku, tho?!”
            “Iyo, yo!” Itu motormu, Lan!!!” jawab Mas Edo dengan wajah yakin. Ya! Mas Edo saja sangat yakin, terlebih lagi di aku. Oh, entah ini betul-betul di luar dugaan. Kami bergesa masuk untuk menghadap ke petugas kepolisian di dalam.
            Tujuanku datang kemari, awalnya ingin melaporkan perkaraku tentang kehilangan sepeda motor, alias dicuri oleh maling yang telah menipuku, tetapi justru bertambah dengan ajuan rasa penasaranku tentang motor di depan tadi, yang mencuri perhatianku. Bahwa, apa yang kucari malah kutemukan di sini.
            Dengan tak sabar, aku menjelaskan secara jeli tentang kejadian perkara yang kualami. Kemudian aku sigap menunjukkan berkas-berkas yang dimintai olehnya pihak kepolisian. Aku menyerahkan bukti lengkap berupa KTP, SIM C, STNK, dan BPKB milikku---kartu-kartu ini tak pernah mangkir dari tas tempat menyimpan uangku. Didukung Mas Edo sebagai saksi kuatku.
            Menurut kejelasan yang aku terima, pengendara motor itu mengalami kecelakaan sampai meninggal di tempat. Dia menabrak pohon besar dan terpental jauh hingga kepalanya membentur batu besar dekat hutan. Seingatku, dia memang tidak pakai helm. Aku merinding. Untung saja motorku hanya rusak di bagian kaca lampu depannya saja, dan jua sepasang kaca spion yang ikut retak. Tidak ada ganti-rugi dalam hal ini, kata Pak Polisi. Setidaknya aku bisa bernapas lega, dan diperbolehkan membawa pulang kembali motor kesayanganku itu; untuk diperbaiki serta kugunakan lagi. Tidak ada sanksi, namun aku harus menanggung kerugianku sendiri.
***
            Istriku sangat kaget pada apa yang menimpaku. Apa mau dikata, jika inilah yang terjadi. Justru aku bersyukur telah mendapatkan suatu keajaiban, dengan kembalinya kendaraan berharga kami di depan mata. Dan, tergenapi-lah nasehat istriku saat ini, bahwa aku jangan mudah percaya pada orang asing yang menyapaku di jalan.
            Selama tiga hari aku memilih untuk beristirahat di rumah. Menenangkan pikiran, dan memulihkan tenaga untuk mulai berdagang kembali. Aku tidak boleh lama meliburkan diri, sebab bisa saja pelangganku kecewa dan mencari pedagang ikan lain selainku. Aku harus kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Harus lebih waspada dan hati-hati. Dan, kewajibanku adalah selalu ingat pesan istriku, bukan komentar orang asing. Istriku adalah hatiku, dan aku mendengarkan hatiku itu.
            Bagaimana tidak, istriku harus kehilangan satu kakinya kini sejak diamputasi, akibat ulah gilaku dulu. Aku amat kasihan, melihatnya dibantu oleh tongkat saat ini.
            Adalah tepat pada dua tahun silam itu, dia pernah memintaku memboncengnya ke pasar. Dengan motor jenis ninja warisan mertuaku---yang sekarang hanya tinggal kenangan. Aku membawanya dengan kecepatan tinggi, menyelip beberapa kendaraan penghalang di depan lintasanku, hingga di persimpangan jalan aku salah mengambil jalur---itu kulakukan dengan sadar, karena kupikir di simpang 4 jalan itu belum ada tanda-tanda kendaraan lain yang mau melintas, seharusnya aku lewat sebelah kiri sesuai prosedur, tapi malah lewat sebelah kanan. Aku kehilangan kendali, mau menginjak rem sudah tak sempat. Istriku terlempar jauh di badan jalan yang berdinding beton, dan napasnya hampir lenyap, kalau saja pada saat itu dia tidak segera dilarikan oleh warga ke rumah sakit terdekat. Sementara diriku sendiri, justru selamat, hanya lecet ringan, dan lebam-lebam di badan---luka di wajahku lah yang lumayan parah, karena sempat terantup dan terseret-seret di dinding beton yang berjerawat, alias kerikil-kerikil bahan campuran beton jalan yang mulai bermunculan. Aku sampai mengutuk diriku sendiri, kenapa harus istriku yang menanggung kenakalanku yang liar itu, kenapa bukan aku yang luka atau mati saja kala itu. Betapa istriku ikhlas menghadapi penderitaan akibat suami payahnya ini, dan inginku: tidak mengulangi aksi burukku terdahulu. Saat SMA dulu, aku memang terkenal suka ugal-ugalan di kepadatan jalan raya, bersama teman-temanku yang gaul dan keren. Aku kerap dituduh tak jantan, kurang keren, dan cemen bila aku tidak pandai balapan. Betapa nakal dan bodoh sekali aku yang dulu.
            “Ayah menangis?”
            Istriku menggrebekku tiba-tiba. Dia mendapatiku yang tanpa sengaja menitikkan air mata. Tangannya yang cekatan mengusap wajahku dengan lembut. Kepalaku menunduk. Pandanganku jatuh ke arah kaki istriku. Dia pun ikut menunduk. Seolah mengerti, sambil tersenyum dia menegaskan kembali padaku, “Sudahlah, Ayah...! Bunda nggak mau Ayah down dengan kondisi kaki Bunda yang cacat, hilang satu bagian ini. Ini terakhir kalinya kita bahas soal ini! Yang penting, kan, Bunda sehat. Pokoknya Ayah mesti jaga pesan Bunda baik-baik. Kita fokus aja untuk memikirkan masa depan kebahagiaan keluarga kita. Ayah mesti jaga diri, jaga keselamatan, demi keluarga kita.”
            “Terima kasih, Sayang. Sekarang Ayah makin semangat!!! Ayah bakal berjuang sebaik mungkin untuk keluarga kecil kita! Semoga Ayah bisa sukses suatu saat, bisa jadi pemilik restoran terkenal dan kaya raya, dan tentunya... dengan menu khas dari ikan bandeng,” utaraku, nampaknya sedikit ngawur, berusaha ingin mencairkan suasana.
            Istriku menahan tawanya, sedetik-dua detik akhirnya terlepas jua. Kami berdua tertawa bahagia di keheningan malam dalam kamar ini. Tetapi, sesudah mengaminkan hajatku barusan, dia kembali menanggapi serius dengan menambahkan sepotong pesan lagi, “Kekayaan itu mudah kita cari, Ayah. Ya, salah satunya: kekayaan bisa kita temukan di jalan. Nyawa kita adalah kekayaan. Raga kita adalah kekayaan. Keselamatan kita adalah kekayaan. Bunda bisa ngomong begini, itu karena setelah Bunda alami sendiri!”
            Aku memeluknya rapat-rapat, dan berjanji menjaga kata-katanya yang istimewa. Meski pikiranku tetap berangan-angan, andai dulu aku sedewasa ini, tak mengikuti jalur kenakalan remaja yang amat liar. Ah, ingin rasanya aku memberikan kaki kiriku ini untuk istriku, agar dia bisa aktif kembali menjadi guru tari kebanggaan daerah. []
Muara Badak, 01.11.15

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen 'Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.'
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com.