![]() |
| Ilustrasi Gambar by Eni NN |
Eni NN
“JALANAN
itu ibarat anggota tubuh manusia. Dia pun ingin disentuh dengan jinak oleh
pengendara terbaik yang melintasinya, bukan dengan aksi liar yang mampu
membuatnya murka.”
Mengawali
langkah dengan berdoa, pagi ini aku kembali menyusuri sebuah jalan untuk suatu
tujuan. Berdagang kaki lima. Aku, seorang ayah muda, berpindah-pindah tempat
dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Dari gang paling sempit, sampai ke luar
jalur di perbatasan kota.
Aku
sangat bersemangat dengan pekerjaan rutinku ini. Mengumpulkan rupiah demi
rupiah yang halal untuk menyanggupi kebutuhan hidup keluarga---ada istri dan
dua anak tercintaku di rumah. Belum lagi, motor yang kutunggangi saat ini
adalah motor cicilan yang belum lunas terbayar---satu tahun ke depan aku masih akan
diapit sebuah utang cicilan. Aku harus bekerja ekstra, tidak boleh memelihara
keluh dan kesah, meski pernah lidahku berucap pasrah, “Kenapa dulu aku tidak
mati saja. Hidup di dunia hanya buatku lelah.” Aku menyesali kalimat tersebut,
yang kerap terngiang di kepala.
Sejak
pagi buta hingga di ujung waktu sore, aku mengabdikan hidup di jalan. Udara
sejuk dan polusi masam, berbaur berebut tempat tinggal di paru-paruku. Jalanan
adalah lalu-lintasku. Jalanan adalah jejak tualangku. Aku seumpama tamu di
ruang jalanan, yang mengizinkanku dengan ramah ketika masuk menitip jejak. Dan,
motor Honda kesayanganku ini sudah laksana kekasih di sepanjang jalan. Ditambah
lagi, sejak punya motor sendiri, helm
bau cuka berwarna hitam pupus ini tak pernah kutanggalkan dari kepala, di mana
pun tujuanku berada. Aku tak kalah dengan wanita berhijab yang istiqamah
melindungi kepalanya. Aku juga tak mau kalah dengan handphone layar sentuh yang dilindungi antigores. Kepalaku juga
berharga, dan butuh perlindungan.
“Ikan
bandeng... Ikan bandeng....” Aku berteriak gigih, guna promosikan ikan
dagangan, dibantu dengan suara klakson yang beriringan kuperdengarkan.
Sambil
menghidupkan lampu sein ke kiri, aku lalu menepikan kendaraan roda duaku ini
dengan baik, persis di depan rumah seorang pelanggan yang sesaat lebih dulu
menjawab teriakanku.
Aku
paling suka menyambangi rumah-rumah ibu rumah tangga yang kukenal malas ke
pasar. Mereka sudah biasa menanti kehadiranku; mengantarkan ikan-ikan nan
segar. Yang bernama Khatimah, dia pelanggan terbaik, yang tak pernah mengutang
ketika membeli ikan bandengku. Tidak seperti pelanggan yang lain, ada yang
berminggu bahkan berbulan barulah dia membayar. Untunglah, mereka sangat aku
percaya. Untung-rugi biasa terjadi. Namanya juga usaha.
“Alan...
Alan.... Kamu itu kalau bawa motor kayak bawa sepeda, ya! Lambat benarrr! Kalah
jago sama anak SD jaman sekarang. Hahahaaa...” komentar Idon, pedagang sayur
yang juga berdagang kecil-kecilan dengan motor bebeknya.
“Don...
Don.... Kamu orang kesekian yang ngomong gitu ke aku,” tegasku dengan balasan
akrab, dibarengi mendesah sabar.
Sudah
banyak yang mengutarakan demikian. Tak sedikit ada pula yang memaklumiku. Namun,
menurut batinku, biarlah mereka berkata apa, aku punya prinsip sendiri.
Selain
karena terbiasa mesti singgah di lokasi para pelanggan dengan tenggat jarak
yang kisarannya maksimal lima meter,
jua karena aku memang merasa nyaman mengendarai motor ini dengan kecepatan
maksimal hanya 30 km/jam---bahkan tak genap 20 km/jam. Sering pula aku
ditertawakan secara terang-terangan oleh Haykal, sahabat satu geng-ku dulu saat
masa-masa SMA. Dia tak lain adalah seorang owner
bengkel motor terbesar di kampung kami. Untuk urusan soal motor, dia memang
jagonya. Sangat kuakui. Dia ahli di bidang itu. Tapi, membandingkanku dengannya,
itu amat tidak wajar, kupikir. Sekalipun kelak aku kembali piawai meng-handle kendaraanku ini dengan kecepatan
tinggi, tidak akan kulakukan aksi ugal-ugalan itu di jalan.
“Ayah
ingat pesan Bunda, kan?” sambut Iis, istriku, di depan pintu rumah sederhana
kami.
“Ayah
selalu ingat itu, Sayang. Tenanglah...” ucapku dengan maksud menenangkannya,
sambil mencium keningnya sekembaliku dari bertualang di jalan---tak lain untuk mencari
nafkah.
Tiap
berangkat kerja, dia tak lupa mengingatkanku tentang itu, nasehat itu, tentang keselamatan
diriku yang seutamanya mesti kujaga. “Biar lambat, asal selamat!” Begitu,
kalimat yang sama kerap diulangnya. Ya, karena saking cintanya dia pada
suaminya ini.
“Besok,
jam tiga Subuh, bangunkan Ayah, ya, Bund.... Ayah harus cepat-cepat ke pelabuhan,”
pintaku.
“Tumben!”
tandasnya kemudian.
“Iya,
soalnya Ayah sudah buat janji mau ketemuan sama pemilik tambak bandeng di sana.
Katanya kalau Ayah nggak cepat, ikannya keburu habis diborong pembeli dari luar
kota. Ikannya segar-segar, dan Ayah akan dikasih diskon 50 persen dari total
harga yang sering Ayah dapatkan biasanya. Lumayan, lah...! Ayah baru kenal juga,
sih. Tapi, kata orang, dia pengusaha ikan hasil tambak yang baik, yang nggak
terlalu mahal menaruh harga.”
Istriku
mengangguk, turut mengerti. Kami pun beranjak masuk, dan langsung ke meja
makan.
Anakku
yang paling kecil, Syifa namanya, dan dia acap mengeluh. Sebabnya adalah, ikan
bandeng daganganku itu, setia mengabdikan dirinya sebagai menu lauk andalan di
keluarga kami. Dia sangat bosan. Meski sering sekali aku menasehati, agar dia
lebih bersyukur, karena masih banyak orang yang kelaparan di luar sana. Dan
kubilang, “Ini makanannya orang kaya, lho, Sayang....” Dia tetap tidak mau
tahu. Hm, namanya juga anak-anak, dan dia sudah diambang rasa jenuh. Aku yakin
sebenarnya istriku dan Tiara---kakaknya Syifa---juga sepemikiran dengan Syifa.
Bahkan kuakui, lidahku pun mulai sepat, menyentuh daging ikan yang serupa tiap
harinya. Menyantap lauk jenis lain, itu hanya sesekali. Semua mesti bersabar,
sampai motor itu lunas. Ada sedikit uang, tapi itu tersimpan aman di kotak
tabungan keluarga kami, sebab kebutuhan lain juga mengantri di belakang. Jika kami
kekurangan rupiah, tidak kebayang jika aku bakal menunggak selama tiga bulan,
lantas otomatis pula motorku akan ditarik oleh dealer motor kembali. Aku tidak mau itu sampai terjadi.
“Sabar
dulu, ya, Sayang. Kalau motor kita sudah lunas, Syifa bebas mau makan apa aja.
Ayah bakal usahakan pokoknya,” kataku kepada Syifa. Dia diam tanpa komentar
apa-apa. Untung saja Tiara dapat mengerti dengan keadaan dan kondisi genting
orangtuanya ini, dia bisa jadi contoh buat Syifa.
***
Keningku
mengkerut. Lonceng jam klasik milik desa ini sempat mengagetkanku. Berbunyi tepat
di pukul 3.00 jelang Subuh. Ini kali pertamanya aku menguber barang dagangan
sepagi ini. Biasanya, aku menggapai pelabuhan pada pukul 6.00. Tidak sepagi
buta ini.
“Kenapa
orang itu tidak datang juga, ya??? Aku sudah setengah jam di sini.
Sepertinya...” batinku mulai resah.
Duhai,
perjanjian macam apa ini?! Bukankah kemarin dia sendiri yang bilang kalau aku
mesti benar-benar datang di hari dan jam yang telah disepakati. Tapi, sudah
setengah jam aku di sini, agen ikan itu tidak datang juga. Dalam keadaan gelap
begini, angin yang dingin menyergap kulitku. Aku duduk seorang diri sembari tetap
menanti dari atas motor. Gemericik air sungai sesekali menghidupkan suasana. Dan,
untuk mencegah serbuan angin bak es batu
itu, aku merapatkan jaket kulit di badanku, juga memasang kembali helm yang sempat kulepas saat sampai di
sini. Badanku mulai hangat. Ah, aku malah ngantuk jadinya. Atau aku pulang
saja....
PRAAAK!
Tiba-tiba
ada yang menimpuk punggungku dari belakang, dengan sebatang balok dari kayu
ulin. Tubuhku terempas jatuh tak berdaya di aspal pelabuhan. Samar-samar aku tersadar,
ada yang menghidupkan motorku dengan kunci yang masih menyangkut di leher
motor. Seorang bapak-bapak paruh baya
melarikan motorku, dan berteriak, “Terima kasih sudah dataaanggg...!”
“Maaaliiinggg!!!
Maliiinggg...!!! Tolooong!!! Motorkuuu...!!!”
Tak
ada seorang pun yang bisa mendengarkanku di lokasi sepi ini. Spontan, air
bening mengalir hangat di pipi tirusku. Aku sudah berlari mengejar maling itu sendiri,
namun sia-sia. Bagai ditelan alam, jejaknya hilang seketika. Aku menyesal. Benar-benar
menyesal! Andai saja.... Ah!!!
“Motor
belum lunas, malah hilang dari hadapan! Apa yang harus aku lakukan?! Apa yang
harus kubilang pada istriku?! Bagaimana aku bisa berdagang nanti?!” rutukku
membara, bersikeras menyalahkan diri.
Aku
memilih untuk tetap di sini. Di pelabuhan yang menjadi saksi luka hatiku.
Hingga Subuh berlalu, dan langit mulai berwarna biru. Perahu mesin beriringan
datang bersama kumpulan para nelayan yang membawa ikan laut tangkapan mereka; mereka
bukan langgananku, tapi mereka sangat akrab denganku. Biasanya, Mas Edo dan Pak
Yono yang membawakan ikan-ikan hasil tambak pesananku: ikan bandeng kecil dan
sedang---maklumlah, uang modalku hanya mampu membeli ikan-ikan seukuran itu.
Para pedagang ikan mulai berkumpulan. Terjadilah transaksi jual-beli di sini.
“Ada
apa, pagi-pagi malah melamun? Ini ikanmu sudah aku bawakan!” tegur Mas Edo
padaku.
Aku
lalu mengadukan kejadian pahit yang aku alami pada Mas Edo, sedetil-detilnya. Sesaat
semua heboh mendekatiku. Ada yang penasaran. Ada yang turut prihatin padaku. Mas
Edo lantas berbaik hati mengantarku ke kantor polisi, guna melaporkan kejadian
pencurian motor ini.
Sesampainya
aku dan Mas Edo di kantor pihak yang berwajib, tiba-tiba ada pemandangan yang
tak asing di mataku. Ya. Aku melihat ada sebuah motor persis motorku, yang
diberi segel police line berwarna hitam dan kuning.
“Mas
Edo! Mas Edo! Itu, kan, motorku, tho?!”
“Iyo,
yo!” Itu motormu, Lan!!!” jawab Mas Edo dengan wajah yakin. Ya! Mas Edo saja
sangat yakin, terlebih lagi di aku. Oh, entah ini betul-betul di luar dugaan.
Kami bergesa masuk untuk menghadap ke petugas kepolisian di dalam.
Tujuanku
datang kemari, awalnya ingin melaporkan perkaraku tentang kehilangan sepeda
motor, alias dicuri oleh maling yang telah menipuku, tetapi justru bertambah
dengan ajuan rasa penasaranku tentang motor di depan tadi, yang mencuri perhatianku.
Bahwa, apa yang kucari malah kutemukan di sini.
Dengan
tak sabar, aku menjelaskan secara jeli tentang kejadian perkara yang kualami. Kemudian
aku sigap menunjukkan berkas-berkas yang dimintai olehnya pihak kepolisian. Aku
menyerahkan bukti lengkap berupa KTP, SIM C, STNK, dan BPKB milikku---kartu-kartu
ini tak pernah mangkir dari tas tempat menyimpan uangku. Didukung Mas Edo
sebagai saksi kuatku.
Menurut
kejelasan yang aku terima, pengendara motor itu mengalami kecelakaan sampai
meninggal di tempat. Dia menabrak pohon besar dan terpental jauh hingga kepalanya
membentur batu besar dekat hutan. Seingatku, dia memang tidak pakai helm. Aku merinding. Untung saja motorku
hanya rusak di bagian kaca lampu depannya saja, dan jua sepasang kaca spion
yang ikut retak. Tidak ada ganti-rugi dalam hal ini, kata Pak Polisi.
Setidaknya aku bisa bernapas lega, dan diperbolehkan membawa pulang kembali
motor kesayanganku itu; untuk diperbaiki serta kugunakan lagi. Tidak ada sanksi,
namun aku harus menanggung kerugianku sendiri.
***
Istriku
sangat kaget pada apa yang menimpaku. Apa mau dikata, jika inilah yang terjadi.
Justru aku bersyukur telah mendapatkan suatu keajaiban, dengan kembalinya
kendaraan berharga kami di depan mata. Dan, tergenapi-lah nasehat istriku saat
ini, bahwa aku jangan mudah percaya pada orang asing yang menyapaku di jalan.
Selama
tiga hari aku memilih untuk beristirahat di rumah. Menenangkan pikiran, dan
memulihkan tenaga untuk mulai berdagang kembali. Aku tidak boleh lama meliburkan
diri, sebab bisa saja pelangganku kecewa dan mencari pedagang ikan lain
selainku. Aku harus kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Harus lebih
waspada dan hati-hati. Dan, kewajibanku adalah selalu ingat pesan istriku,
bukan komentar orang asing. Istriku adalah hatiku, dan aku mendengarkan hatiku
itu.
Bagaimana
tidak, istriku harus kehilangan satu kakinya kini sejak diamputasi, akibat ulah
gilaku dulu. Aku amat kasihan, melihatnya dibantu oleh tongkat saat ini.
Adalah
tepat pada dua tahun silam itu, dia pernah memintaku memboncengnya ke pasar.
Dengan motor jenis ninja warisan mertuaku---yang sekarang hanya tinggal kenangan.
Aku membawanya dengan kecepatan tinggi, menyelip beberapa kendaraan penghalang
di depan lintasanku, hingga di persimpangan jalan aku salah mengambil jalur---itu
kulakukan dengan sadar, karena kupikir di simpang 4 jalan itu belum ada
tanda-tanda kendaraan lain yang mau melintas, seharusnya aku lewat sebelah kiri
sesuai prosedur, tapi malah lewat sebelah kanan. Aku kehilangan kendali, mau
menginjak rem sudah tak sempat. Istriku terlempar jauh di badan jalan yang
berdinding beton, dan napasnya hampir lenyap, kalau saja pada saat itu dia tidak
segera dilarikan oleh warga ke rumah sakit terdekat. Sementara diriku sendiri,
justru selamat, hanya lecet ringan, dan lebam-lebam di badan---luka di wajahku
lah yang lumayan parah, karena sempat terantup dan terseret-seret di dinding
beton yang berjerawat, alias kerikil-kerikil bahan campuran beton jalan yang
mulai bermunculan. Aku sampai mengutuk diriku sendiri, kenapa harus istriku
yang menanggung kenakalanku yang liar itu, kenapa bukan aku yang luka atau mati
saja kala itu. Betapa istriku ikhlas menghadapi penderitaan akibat suami
payahnya ini, dan inginku: tidak mengulangi aksi burukku terdahulu. Saat SMA
dulu, aku memang terkenal suka ugal-ugalan di kepadatan jalan raya, bersama
teman-temanku yang gaul dan keren. Aku kerap dituduh tak jantan, kurang keren,
dan cemen bila aku tidak pandai balapan. Betapa nakal dan bodoh sekali aku yang
dulu.
“Ayah
menangis?”
Istriku
menggrebekku tiba-tiba. Dia mendapatiku yang tanpa sengaja menitikkan air mata.
Tangannya yang cekatan mengusap wajahku dengan lembut. Kepalaku menunduk. Pandanganku
jatuh ke arah kaki istriku. Dia pun ikut menunduk. Seolah mengerti, sambil
tersenyum dia menegaskan kembali padaku, “Sudahlah, Ayah...! Bunda nggak mau
Ayah down dengan kondisi kaki Bunda yang
cacat, hilang satu bagian ini. Ini terakhir kalinya kita bahas soal ini! Yang
penting, kan, Bunda sehat. Pokoknya Ayah mesti jaga pesan Bunda baik-baik. Kita
fokus aja untuk memikirkan masa depan kebahagiaan keluarga kita. Ayah mesti
jaga diri, jaga keselamatan, demi keluarga kita.”
“Terima
kasih, Sayang. Sekarang Ayah makin semangat!!! Ayah bakal berjuang sebaik
mungkin untuk keluarga kecil kita! Semoga Ayah bisa sukses suatu saat, bisa jadi
pemilik restoran terkenal dan kaya raya, dan tentunya... dengan menu khas dari
ikan bandeng,” utaraku, nampaknya sedikit ngawur, berusaha ingin mencairkan
suasana.
Istriku
menahan tawanya, sedetik-dua detik akhirnya terlepas jua. Kami berdua tertawa bahagia
di keheningan malam dalam kamar ini. Tetapi, sesudah mengaminkan hajatku
barusan, dia kembali menanggapi serius dengan menambahkan sepotong pesan lagi,
“Kekayaan itu mudah kita cari, Ayah. Ya, salah satunya: kekayaan bisa kita
temukan di jalan. Nyawa kita adalah kekayaan. Raga kita adalah kekayaan. Keselamatan
kita adalah kekayaan. Bunda bisa ngomong begini, itu karena setelah Bunda alami
sendiri!”
Aku
memeluknya rapat-rapat, dan berjanji menjaga kata-katanya yang istimewa. Meski
pikiranku tetap berangan-angan, andai dulu aku sedewasa ini, tak mengikuti
jalur kenakalan remaja yang amat liar. Ah, ingin rasanya aku memberikan kaki
kiriku ini untuk istriku, agar dia bisa aktif kembali menjadi guru tari
kebanggaan daerah. []
Muara
Badak, 01.11.15
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar